Beda Bahasa

Semua ini berwal dari situasi saat saya berada dalam bus Trans Jakarta. Saat itu penumpang di dalam bus tidak terlalu penuh dan tidak sepi. Posisi saya yang menempatkan sebuah fenomena yang harus saya lihat, cermati, dan renungi.

Saat itu diluar hujan dan penumpang bus rata-rata tertidur pulas. Tapi tidak untuk empat orang yang sejak awal mencuri perhatian saya. Saat itu juga, di arah serong kanan saya, ada dua orang wanita paruh baya yang sibuk berbincang menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Kedua wanita ini orang Indonesia tulen. Tapi keduanya berpostur layaknya seorang ibu guru, kalem dan berhijab. Berbeda dengan dua wanita paruh baya di arah serong kiri saya. Mereka cantik, tapi mereka berbicara dengan kesunyian. Ya, mereka berdua bisu.

Setelah lama memerhatikan mereka, ada hal yang menggelitik otak saya untuk merenunginya.
Iya, kedua kubu ini berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tapi isi dari obrolan mereka?

Secara garis besar, kubu yang menggunakan bahasa Inggris tersebut saling berkeluh kesah tentang harinya saat itu. Mereka mengeluh tentang si A, B, dan C, dan kejadian yang mereka alami hari itu dan tercermin muka bad mood mereka saat menceritakan itu semua. Tapi coba lihat di kubu sebelah, walaupun mereka berbicara dengan gerakan, tapi gerakan dan sinar mata mereka melambangkan kegembiraan. Mereka berbincang tentang kejadian yang mereka alami tadi.

Kemudian saya berpikir. Untuk apa kita dikasih mulut yang bisa berbicara tapi yang keluar hanya keluhan yang bisa buat hati kita kesel sendiri, buat orang lain risih mendengarnya, dan bahkan Tuhan pun nggak suka? Lebih baik suara tersebut diberikan kepada orang yang selalu mau berbicara tentang kesukacitaannya.

Ahh, tapi ini hanya pemikiran saya saja sebagai manusia, Tuhan pasti punya alasan lain yang tidak bisa diselami.

Yang jelas, saya bersyukur sekali diberikan fenomena ini. Saya yang sejak dulu tidak pernah suka melihat orang yang mengeluh. Mellihat fenomena ini semakin tersadar bahwa mulut saya, suara saya, diberikan untuk selalu mengucap syukur dan memberikan kesukacitaan. Bukan. Bukan untuk hati saya saja, tetapi untuk orang-orang disekeliling saya yang mendengar dan melihatnya.

Advertisements

Categories: Daily Thought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s