Sekolah Membunuh Kreativitas Anak

Ketika saya mengantar anak saya ke sekolah, saat itu anak saya masih TK. Saya melihat seorang anak kecil sedang asik menggambar, entah menggambar apa, yang jelas dia asik menggambar. Saat itu saya bertanya:

“Sayang, kamu lagi gambar apa?”
“Lagi gambar Tuhan Om”
“Loh, kok menggambar Tuhan?”
“Iya, habisnya aku tanya ke orang-orang nggak ada yang tahu wajah Tuhan seperti apa. Jadinya aku gambar deh. Tunggu aku selesai gambar, nanti kan semua orang jadi tahu wajah Tuhan kayak apa.”

Ya. Itu adalah keluguan seorang anak kecil, karena anak kecil itu tidak pernah takut salah.
Tapi coba dilihat sekarang ini dan setelah anak itu beranjak besar dan memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi. Sekolah membuat kita takut salah. Kenapa? Coba kita pikirkan.

Salah menghitung dalam matematika, menyebabkan kita tidak naik kelas.
Salah menjawab peta buta, menyebabkan kita tidak naik kelas.
Dan lain-lain.

Semua hal di sekolah membuat anak menjadi takut.
Padahal, Picasso pernah berkata “Semua anak itu lahir menjadi orang luar biasa.”
Ya. Semua anak berpotensi menjadi orang luar biasa bila mereka berani menjadi diri mereka sendiri.

Ketika kita masuk sekolah, kita diajarkan aturan-aturan, yang secara tersirat akan menimbulkan rasa dan mindset takut. Misalnya :
Matematika lebih menakutkan daripada bahasa Inggris.
Itu menyiratkan bahwa matematika lebih penting daripada bahasa inggris.
Bahasa Inggris lebih menakutkan daripada kesenian.
Itu menyiratkan bahwa bahasa Inggris lebih penting daripada kesenian.
Kesenian musik lebih menakutkan daripada kesenian menggambar.
Itu menyiratkan bahwa musik lebih penting daripada gambar.

Dari itu semua, banyak orang  atau guru menjadi bilang (misal) :
“Kamu nggak akan sukses dengan menjadi pemahat” dan “Kamu akan sukses kalau menjadi akuntan”

Melalui sekolah dan mindset’nya kita dikotak-kotakkan, bukti:
Kalau lulus matematika, kita bisa naik kelas.
Tapi kalo nggak lulus kesenian, masih bisa naik kelas.
Makanya ada les matematika, tapi nggak ada les menggambar.

Karena mindset dan rasa takut tersebut sekarang ini orang jadi berlomba-lomba mengejar pendidikan setinggi mungkin. Seperti halnya sekarang, hampir semua mengenyam strata 1 (s1). Semua orang jadi lulus s1. Sekarang ini sudah ada puluhan juta s1. Semua standar kerja jadi s1, padahal dulunya hanya lulusan SMA yang dicari.

Semua orang jadi ber-mindset sama, karena ketakutan yang ditumbuhkan semasa sekolah. Ketakutan yang mematikan kreativitas anak untuk menjadi orang sukses yang berbeda.

Sekolah telah mematikan kreativitas. Tapi coba kalau anak dibiarkan berkembang dengan hobi’nya dan biarkan mereka sukses dengan hobi’nya, kesukaannya, cita-citanya, impiannya, imajinasinya?

Yang jadi pertanyaan besar untuk kita masing-masing adalah :

What you born to be?

Anda terlahir untuk jadi apa?
Karena tidak perlu semuanya menjadi akuntan!
Jangan pernah takut untuk menjadi yang berbeda dan berada pada jalan kamu sendiri.

Saya tidak mengatakan pendidikan tidak penting. Pendidikan penting. Tapi yang dipermasalahkan adalah konsepnya.

Stress. Takut untuk salah. Membunuh Kreativitas.
Telah menyebabkan anak tidak mau menjadi orang yang berbeda.
Sukses dengan kreativitasnya sendiri.
Terkadang hal kecil yang tidak penting dapat menjadi sesuatu yang bisa menyukseskan diri kita.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengutamakan kreativitas.

Selamat Hari Pendiidikan Nasional

– DEDDY CORBUZIER –
dalam Hitam Putih – Trans7

dengan modifikasi oleh Ria Roida M. S.

Advertisements

Categories: Daily Thought

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s