IDEALIS versus PASSION

…Intermezzo…

Menurut encylopedia bebas …

Idealism is the group of philosophies which assert that reality, or reality as we can know it, is fundamentally mental, mentally constructed, or otherwise immaterial.

 Passion (from the Latin verb patī meaning to suffer) is a term applied to a very strong feeling about a person or thing. Passion is an intense emotion compelling, enthusiasm, or desire for anything.

Tulisan dengan tema ini gue angkat karena gue merasa tergelitik begitu melihat tweet seseorang yang mengatakan “Pada dasarnya kita bisa memilih bakal bekerja seperti apa kelak, tapi sayangnya kita nggak bisa menyangkal passion kita ada dimana” (APS, 2013)  Begitu melihat tweet ini, di otak gue langsung bergulir berbagai pemikiran yang pro-kontra.

Bener juga.. seringkali kita semua galau untuk mengikuti keinginan hati yang kita anggap sebagai passion kita, atau justru mengikuti logika kita yang berpikir idealis (pada jalan semestinya).

Seperti misal, sebagai orang yang berstatus freshgraduate, jenis pekerjaan yang paling diminati adalah yang sebidang dengan apa yang telah kita pelajari di bangku kuliah, yang dengan kata lain kita masih berpikir untuk idealis. Tapi passion kita?? Apa passion kita berbanding lurus dengan pola pikir idealis kita? Apa justru passion kita berbanding terbalik dengan pola pikir idealis kita?

Setelah pikiran gue berkelana kemana-mana dan mencari makna dari kedua kata ini menurut kacamata gue sendiri, akhirnya gue beranggapan bahwa passion itu nggak akan lo temukan kalo lo nggak mencobanya!”  dan yang kedua, “apa yang lo yakini sebaga passion lo, belom tentu itu sebenernya passion lo, bisa saja itu hanya hawa nafsu belaka atau hobby”.

Menurut gue, passion seseorang akan ditemukan dan disadari begitu orang tersebut berani mencoba dan melalui beberapa pembentukan dari proses yang dijalaninya. Seseorang akan tau dan merasakan bahwa itu passion-nya ketika sudah terjun di dalamnya. Entah ketika dia telah mencoba untuk terjun dalam ke-idealis-an-nya atau justru ketika dia mencoba  keluar dari ke-idealis-an-nya.

Menurut gue, nggak ada salahnya untuk menjadi orang idealis pada tahap awal. Mungkin saja hasil ke-idealisan lo itu akan berhasil, tapi jika terus gagal dan akhirnya lo memilih untuk mulai tidak idealis dan kemudian lo mencari hal lain, coba buka diri dan rasakan ketika lo di dalamnya. Siapa tahu, disitulah passion lo. Jangan memungkiri bila passion lo jauh dari apa yang lo inginkan atau banyangkan.

Pada intinya…

Jangan takut untuk mencoba, karena tanpa mencoba, lo nggak akan tau apakah itu dunia lo atau bukan, apakah disana passion lo atau bukan.

Jangan takut untuk mencoba menjadi idealis ataupun tidak idealis, karena jika lo terkekung dengan keinginan dan pola pikir lo sendiri, lo nggak akan tau dimana passion lo itu tersembunya.

Jangan takut juga untuk mencoba mengikuti keinginan dan nafsu menggebu dalam diri, karena mungkin saja lo menemukan passion lo disana atau bahkan lo menemukan sisi lain yang selama ini terpendam dari diri lo. Jadikan hal ini sebagai trial and error pembentukan diri dan pengalaman.

Jangan takut untuk memulai, karena semua orang tidak pernah tahu akan masa depan dan tidak tahu akan apa yang akan dihadapinya. Ibarat seperti teka-teki, lo harus mampu berani menebaknya untuk tahu jawabannya.

MULAI! Maka kamu akan MENEMUKAN.

COBA! Maka kamu akan TAHU hasilnya.

Advertisements

Categories: Daily Thought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s