Perkenalan di Sebuah Kedai Kopi

Jam tanganku menunjukkan pukul 12.00. Masih tersisa dua jam lagi dari waktu janjian dengan temanku. Melirik ke sekeliling jalan yang kulewati di daerah Melawai, hingga akhirnya memutuskan untuk masuk ke sebuah kedai kopi bertema kayu. Tempat yang unik dengan desain yang cozy membuat hati tertarik untuk menghabiskan waktu disana.

Aku memilih duduk di kursi paling pojok, dekat jendela agar bisa melihat hiruk-pikuk orang diluar sana dan aktivitas orang di ruang kedai kopi tersebut, hingga suatu ketika mataku tertuju pada seorang pria. Pria muda yang tidak bisa dikategorikan cakep ataupun jelek.

pria tersebut hanya duduk sambil menikmati kopinya. Namun beberapa saat kemudian dia melirik sekitarnya dan beberapa kali mencuri-curi pandang ke arah wanita di meja sampingnya. Tak berapa lama, pria itu berdiri dan melangkahkan kaki menghampiri wanita tersebut.

Terlihat jelas dari sudut pandangku pria tersebut tersenyum dan meminta izin untuk duduk semeja dengan wanita tersebut. Terdengar di telingaku juga percakapan perkenalan mereka dan canda tawa mereka yang sangat lepas seolah mereka adalah teman lama. Tapi tentu saja mereka bukan teman lama. Mereka hanyalah stranger yang mencoba untuk menjadi teman.

Beberapa lama aku memantau gerak-gerik mereka dan tibalah saatnya aku merasa wanita tersebut sudah terpikat oleh sang pria. Terlihat sekali dari pandangan matanya, gerakan tangannya, hingga caranya memanggil nama pria tersebut.

Sayangnya waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 13.45. Sudah saatnya aku menyudahi tontonan drama ini. Aku pun berkemas dan siap pergi dari ruangan tersebut, hingga pergerakanku terhenti saat mendengar dering handphone pria tersebut yang cukup kencang dan suara pria tersebut yang menyapa sang penelepon dengan dialog “Hallo sayang… kamu udah selesai ya? Aku jemput ya sekarang kesana.”

Seperdetik kemudian dan tanpa basa basi, sang pria segera berpamitan dengan wanita yang baru dikenalnya itu. Terlihat jelas oleh mataku, diamnya sang wanita, yang hanya mengangguk dengan tatapan kosong seolah angin segar yang baru saja berhembus di padang pasir sirna, yang tertinggal hanyalah gersang.

Advertisements

Categories: Fiction

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s