IKIGAI

Mungkin beberapa dari readers tahu apa itu IKIGAI. Kata ini pertama kali saya ketahui adalah saat saya kuliah semester awal, sekitar tahun 2009. Tapi karena semasa itu saya merasa masih telalu muda untuk menyelami kata bermakna berat ini, jadi saya cukup tahu saja, tidak ingin memikirkannya lebih dalam. Hingga akhirnya beberapa bulan lalu ada yang menunjukkan gambar skema IKIGAI dan bertanya “Rii, tahu ini?” Saat itu, saya terdiam sejenak dan mulai flashback.

IKIGAI merupakan konsep dari Jepang yang menurut saya cukup “menarik”, terlihat idealis dan hampir tidak mungkin, namun jika diikuti prosesnya memang panjang tapi akan menarik. Kalau saya jabarkan bagaimana itu IKIGAI, sepertinya akan sangat panjang, coba teman-teman lihat gambar dibawah ini, baca dan kaitkan berulangkali. Tapi intinya, IKIGAI dibagun dari 4 hal, yaitu Passion, Profession, Mission, dan Vacation, dimana keempatnya dibangun oleh 4 pertanyaan dasar: apa hal yang paling kamu CINTA?, apa hal yang paling TERAMPIL yang dapat kamu lakukan?, pekerjaan apa yang membuat kamu paling layak DIBAYAR?, Dan terakhir yang paling berkaitan dengan ketiga pertanyaan sebelumnya, apa sih yang sebenarnya diperlukan oleh DUNIA?

source: geniusu.com

Jadi secara teknis, IKIGAI baru akan tercapai ketika kita:

“Mengerjakan sesuatu yang kita CINTAI, dan kita bisa mengerjakannya dengan BAGUS, lalu kita pun DIBAYAR untuk mengerjakan hal tersebut, dan DUNIA memerlukan hasil karya kita itu.”

Saya sendiri belum selesai merumuskan IKIGAI saya, memang rasanya tidak akan beres dengan cepat, bahkan saya masih harus menunggu lama, menunggu proses dalam hidup saya, sehingga saya bisa yakin memetakan apa saja yang pernah saya lewati dengan pengalaman hidup yang mencukupi (karena menurut saya, saat ini pun saya masih terlalu muda, mungkin ketika umur saya menginjak 30 tahun, sudah bisa saya petakan).

Kenapa IKIGAI ini saya ulas dalam blog saya? Sebenarnya karena beberapa hari lalu, saya bertemu dengan teman-teman saya (kami bertiga adalah perempuan) dan membahas pernikahan dia hingga life after marriage. Ditengah obrolan yang macem-macem yang serius tapi nyeleneh, disitu kami menyimpulkan bahwa pernikahan itu menyatukan dua kepribadian yang berbeda. Nantinya, adanya permasalahan di dalam rumah tangga itu adalah hal yang lumrah dan malah aneh kalau pernikahan tanpa permasalahan. Menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga nantinya bukan hal yang “telalu besar” asal kedua belah pihak dapat “bekerja sama” dengan baik. Hal yang sulit adalah ketika dua orang bersatu ini dapat memberikan good impact untuk lingkungan sekitarnya atau bahkan khalayak umum. That’s the point! Kebanyakan dari kita memikirkan dalam diri kita, untuk diri kita dan keluarga kita, kita sering lupa kalau banyak orang yang melihat kita dan menunggu sesuatu dari kita. Ketika kita bisa “membangun” di dalam, jangan hanya disimpan, tapi juga bekerja sama untuk meng-influence sekeliling.

Lalu apa hubungannya dengan IKIGAI? Coba deh pikirkan sendiri..

Ngeselin ya? HAHA.. But let me know if you want to chat more about it. You can call me directly or contact me through whatsapp (if you have my number) or email on my contact on this web. Hihi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s