Apa yang menarik dari Balige?

[English version or Steller version: Balige, Toba Samosir]

Setibanya di Bandara Udara Silangit, kami langsung dijemput oleh supir dan mobil sewaan. Bandara Udara Silangit terletak tidak begitu jauh dari Balige. Perlu diketahui, Balige merupakan sebuah kecamatan dan juga merupakan ibukota dari Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Kabupaten Toba Samosir ini sangat sering kita dengar dengan sebutan Tobasa (Toba Samosir).

Dikarenakan kami belum sarapan (karena flight paling pagi dari Medan), tujuan utama kami tentunya tempat makan. Awalnya kami merencanakan untuk sarapan di Timbo Café atau Tio Café dan makan siang di Vivi Café. Tapi melihat kondisi jam yang cukup tanggung antara sarapan dan makan siang, akhirnya kami memutuskan brunch di Vivi Café. Tempatnya cozy banget, interiornya penuh dengan bambu dan view’nya langsung ke Danau Toba. Dari restoran ini kita dapat melihat lalu lalang kapal penyeberangan orang. Kalau teman-teman ke café ini, menu handalan mereka adalah Ikan Mujahir Panggang dan jangan lupa kopi pahit hitam. Porsi di café ini cukup besar, untuk itu bisa “makan tengah” alias sharing.

Processed with VSCO with c8 preset
Dari awal masuk Vivi Cafe, semua ornamennya eye catching banget, kayu, rotan, dan bambu semua gini..
Processed with VSCO with c8 preset
Spot paling ujung dari cafe ini seru banget deh, karena langsung Danau Toba dan kita bisa melihat kapal berlalu-lalang menyeberangi danau

Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Museum TB Silalahi Center. Lokasinya tidak begitu jauh dari Vivi Café, hanya memakan waktu ± 10 menit. Letaknya yang berada di Balige dan agak jauh dari keramaian membuat museum ini tidak begitu ramai pengunjung. Maklum saja kalau lokasinya bukan di tengah pusat keramaian Balige, karena dulunya lokasi ini adalah Pabrik Aeroz. Padahal, menurut saya pribadi museum ini lumayan oke juga loh!

Museum TB. Silalahi dikelola oleh yayasan nirlaba yang didirikan sendiri oleh Letjen TNI (Purn) Dr. Tiopan Bernhard Silalahi pada tahun 2007. Yayasan ini didirikan dengan tujuan untuk melestarikan budaya Batak dan membentuk karakter masyarakat Batak. Museum ini diberi nama Museum TB Silalahi Center yang berisi jejak langkah dan sejarah TB. Silalahi untuk memotivasi generasi muda untuk terus meraih cita-cita dengan melihat pengalaman TB. Silalahi mulai dari kecil sebagai anak pengembala kerbau sampai menjadi seorang Jenderal.

Processed with VSCO with c8 preset
Begitu masuk pekarang TB Silalahi Center, kita langsung disambut dengan beberapa patung yang menceritakan bahwa Letjen TB Silalahi yang merupakan anak penggembala kerbau dapat sukses meraih cita-citanya hingga menjadi Letjen TNI
Processed with VSCO with c8 preset
Pada area pekarangan pun terdapat patung TB Silalahi yang berdiri dengan gagahnya dan terukir prestasi dari beliau

Untuk masuk TB Silalahi Center, kamu hanya perlu membayar Rp 10.000 per orang, ini sudah mencakup keseluruhan areanya loh, dari mulai museum koleksi pribadi TB Silalahi, museum koleksi titipan kerabat TB Silalahi, hingga ragam rumah adat Batak Toba.

Koleksi pribadi di TB Silalahi Center
Koleksi pribadi TB Silalahi di Museum TB Silalahi Center
Processed with VSCO with c8 preset
Berada di bangunan terpisah, terdapat sebuah bangunan modern yang ternyata didalamnya merupakan koleksi titipan dari kerabat TB Silalahi. Salah satunya ada Al-Quran ayahnya Gusdur juga loh..
Processed with VSCO with c8 preset
Beberapa diorama perjuangan pahlwan pada jaman dahulu juga terpajang di ruangan yang berbeda-beda
Processed with VSCO with c8 preset
Area yang paling seru di TB Silalahi Center ini sebenarnya adalah…. HUTA BATAK! yaitu area yang berisi rumah-rumah ada batak
Processed with VSCO with c8 preset
Cool banget kan.. disaat rumah-rumah adat ini sudah agak jarang ditemui kecuali kamu mengunjungi kampung-kampung di pelosok Sumatera Utara, kamu dapat menemukannya disini dan dapat mengetahui jenis-jenis dari rumah adat ini
Rumah Adat di TB Silalahi Center (3)
Eksteriornya cool banget.. andai saja setiap rumah adat masih mudah ditemui di daerah-daerah, potensi banget untuk jadi daya jual pariwisata kita. Terus masukkin Airbnb, jadi turis dapat dengan mudah merasakan tinggal di rumah tradisional dan being a local

Processed with VSCO with c8 preset
Kalau yang ini rumahnya Si Gale Gale. Si Gale Gale itu apa dapat dibaca di postingan ini yaa.. [Menghabiskan Akhir Pekan di Pulau Samosir]
Setelah puas berkeliling Museum TB Silalahi Center, kami mulai bergerak menuju pelabuhan untuk menyeberang ke Samosir, namun sebelumnya sembari jalan, kami sempat mampir ke Rumah Pengasingan Soekarno, yang akan saya bahas di postingan selanjutnya saja yaa, karena Rumah Pengasingan Soekarno ini letaknya di Parapat, di luar Balige.

Kami menghabiskan 1 malam 1 hari untuk mengeksplorasi Pulau Samosir, yang dapat teman-teman baca di sini (Menghabiskan Akhir Pekan di Pulau Samosir). Setelah bermalam di Pulau Samosir, kami melanjutkan perjalanan ke Balige lagi melalui perjalanan darat dengan menyeberangi danau dengan jembatan, yaitu melalui Pangururan. Perjalanan dari Pulau Samosir hingga Balige melalui Pangururan menempuh waktu ± 5 jam. Lama banget Ri??? Iya, tapi tenang aja, sepanjang perjalanan kamu bisa mampir ke Menara Pandang Tele, ngopi-ngopi asik di bukit yang view-nya Danau Toba (ini akan kita bahas di tulisan selanjutnya aja yaa, hehe).

Singkat cerita, sesampainya di Balige, karena hari sudah mulai gelap, kami langsung ke Hotel dan keluar sebentar untuk mencari makan malam. Malam itu kami menginap di Hotel Mutiara Balige. Hotelnya ini sebenarnya biasa saja, harganya Rp 650.000,- per malam, 1 kamar untuk 2 orang. Kelebihan dari hotel ini adalah lokasinya yang strategis karena terletak di pusat kecamatan Balige. Di sekitara hotel terdapat warung,  convenience store, ATM, tempat makan, pom bensin, dan yang terpenting PINTU BELAKANGNYA LANGSUNG AKSES KE JALAN KECIL PINGGIR DANAU TOBA!

Malam itu kami langsung istirahat karena petualangan di Samosir dari pagi dan perjalanan darat ke Balige sudah sangat cukup melelahkan. Keesokan paginya, kami bangun agak pagi untuk sarapan mie gomak di Pasar Balige. Kami keluar hotel pukul 07:30 dan berjalan kaki menuju Pasar Balige melalui jalan raya yang hanya berjarak 800 meter dari hotel kami (± 10 menit berjalan kaki).

Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Monumen Pahlawan Revolusi yang memang kami lewati saat berjalan kaki menuju Pasar Balige. Pada area monument ini terdapat patung pahlawan kita D.I. Pandjaitan dan sebuah rumah adat Batak Toba yang sekarang difungsikan menjadi salah satu kantor Dinas Pariwisata. Untuk masuk ke area monumen ini gratis dan apa mungkin yaa karena gratis jadi kurang terawat? Hahaha. Karena menurut saya pribadi, monumen ini sangat kurang terawatt, padahal potensi sekali untuk menjadi salah satu ikon kebanggaan Balige, terlebih lokasinya yang sangat dekat dengan Pasar Balige.

Monumen Pahlawan Revolusi Balige, Tobasa
(kiri) patung pahlawan DI Pandjaitan, (kanan) rumah adat

Beberapa langkah dari Monumen Pahlawan Revolusi, tiba-lah kami di Pasar Balige. Pasar tradisional Balige sangat mudah dikenali karena keenam bangunan pasarnya bermotif dan dihiasi lukisan gorga adat Batak. Keenam bangunan tersebut dikenal dengan nama Belerong sehingga pasanya pun juga dikenal dengan nama Onan Balerong (dalam Bahasa Batak, Onan adalah Pasar).

Processed with VSCO with c8 preset
Pasar tradisional Balige, yang juga dikenal sebagai Onan Balerong, merupakan ikon dari Balige

Onan Balerong merupakan salah satu bangunan pasar tua yang ada di Balige. Pasar ini didirikan oleh Belanda pada tahun 1936 dan masih terlihat kokoh berdiri hingga sekarang. Bangunan pasar ini dipenuhi dengan ukiran yang rumit dan berkelas, bangunannya juga terlihat megah dan tidak memberikan kesan sembarangan. Uniknya lagi ukiran di tiap bangunan tidak sama karena tiap bangunan pengukirnya pun berbeda. Pasar tradisional Balige ini menjadi ikon utama Balige, sekaligus sarana interaksi dan pusat kegiatan ekonomi antar penduduk di Balige maupun sekitarnya.

Pagi itu, karena kami datang terlalu pagi, masih banyak toko yang belum buka. Di pasar ini, saat pagi hari, hanya area lokasi pasar basah saja yang ramai, sedagkan untuk toko souvenir mayoritas buka di atas pukul 10:00 AM. Tapi karena pagi ini tujuan kami adalah sarapan mie gomak, kami langsung bergegas mencari warung Mie Gomak Ma’renni di dalam Pasar Balige ini. Lokasinya tepat di tengah-tengah pasar, perbatasan antara area toko souvenir dan pasar basah. Warung mie gomak ini menjual dua jenis mie gomak, yaitu mie gomak kuah dan mie gomak goreng. Saat itu saya dan teman saya mencicipi keduanya dan dua-duanya NIKMAT!! Hal yang lebih fantastis lagi, harganya hanya Rp 5.000,- per porsi!! Kalau di banding Jakarta, harga satu porsi mie gomak ini sama dengan harga Es Teh Manis, hahaha.

Processed with VSCO with c8 preset
Mie Gomak Ma’Renni yang terkenal enak di dalam Pasar Balige. Beneran enak banget sih ini, apalagi yang suka pedas, maknyusss bangeeetttt
Processed with VSCO with c8 preset
Ma’renni punya dua jenis mie gomak, yaitu mie gomak kuah (kiri) dan mie gomak goreng (kanan). Untuk yang tidak terlalu suka pedas, dapat mencicipi mie gomak goreng saja yaa. Apa sih mie gomak, Ri? Mie Gomak adalah makanan yang terkenal sebagai masakan khas daerah dari tanah Batak Toba. Mengenai asal usul sebutan untuk menu ini beragam versi.
Sebagian menyebutkan, mungkin karena cara penyediaannya digomak-gomak (digenggam pakai tangan) hingga sampai saat ini disebut mie gomak, meskipun pada akhirnya tidak menggenggamnya dengan tangan di saat menghidangkannya. Ada juga yang menyebutkannya spaghetti Batak karena mirip dengan spaghetti dari Italia. Mie yang sudah direbus biasanya dibuat terpisah dengan kuah dan sambalnya.

Setelah makan mie gomak, kami memutuskan kembali ke hotel dulu untuk mandi dan akan balik ke Pasar Balige lagi untuk membeli souvenir saat toko souvenir sudah buka. Dalam perjalanan menuju hotel, sepanjang jalan banyak kedai kopi dan ramai oleh bapak-bapak yang sedang ngopi (coffee morning) bercengkerama dengan kawan-kawannya dengan intonasi tinggi dan berbahasa batak. Karena saya tergoda untuk mencicipi kopi di warung-warung tersebut, saya pun mengajak teman saya ini untuk mampir sebentar dan ikut ngopi. Sayang sekali rasanya sudah berpijak di salah satu tanah yang terkenal akan kopi tapi tidak mencicipinya.

Processed with VSCO with c8 preset
Kopi di pinggir jalan di Balige. Cara minum kopinya juga seperti jaman dulu, diseruput dari piring yang jadi wadah cangkirnya

Selesai ngopi, kami langsung bersih-bersih di hotel dan packing. Sekitar pukul 10:00 AM kami keluar lagi menuju Pasar Balige, kali ini rute yang kami pilih adalah melalui pintu belakang hotel dengan menyusuri jalan kecil di sepanjang pinggiran Danau Toba. Perjalanan yang ditempuh memang jadi lebih jauh, menjadi 850 meter dengan waktu tempuh 11 menit berjalan kaki, tapi asiknya jalanan sepi, tidak ramai kendaraan yang lalu lalang dan pemandangannya Danau Toba.

jalan di sepanjang Danau Toba di Balige
Seru banget bisa nelusurin pinggiran Danau Toba
Processed with VSCO with c8 preset
Di sepanjang jalan kecil ini ada beberapa gapura yang diberi ukiran Gorga Batak. “kaya” banget nggak sih sebenarnya negara kita? Kaya akan budayanya.

Setibanya di Pasar Balige dan melihat toko-toko souvenir sudah buka, kami pun langsung mencari apa yang kami cari, yaitu Ulos. Untuk oleh-oleh, teman saya membeli beberapa Ulos murah untuk teman-temannya hanya sekedar sebagai souvenir, yaitu Rp 100.000,- untuk 3 Ulos. Wow!! Buat Ulos padahal susah loh.. harus ditenun satu satu..

Bagi kalian yang akan mencari suvenir Ulos yang benar-benar asli dari penenun tradisional di seputaran Balige dapat menemukannya di lokasi pasar tradisional Balige ini. Namun, kalian harus jeli dalam hal memilih, dan harus memiliki refrensi harga dari kain ulos. Misalnya untuk Ulos tenun buatan tangan tradisonal harganya bisa mencapai ratusan hingga jutaan rupiah. Jadi bila teman-teman menemukan Ulos dengan harga murah, sebaiknya mempertanyakannya, atau kalian dapat mencarinya di toko lain di dalam pasar ini. Kalau di Jakarta,  untuk mencari Ulos sangat mudah, kalian dapat pergi ke Pasar Senen, lebih banyak penjual Ulos di Pasar Senen daripada di Pasar Balige, HAHA.. Tapi lagi-lagi soal harga, kalau di Pasar Balige, teman-teman bisa dapat harga lebih murah disbanding di Pasar Senen. Jangan lupa, harus pintar tawar menawar! Hehe..

 

Processed with VSCO with c8 preset
Toko souvenir di dalam Pasar Balige, jangan lupa harganya harus ditawar yaa

Setelah puas berbelanja, kami pun kembali ke hotel. Karena ingin mencoba moda lain, pilihannya antara menggunakan Betor (Becak Motor) atau angkot. Namun karena Betor disini lucu, yang satu hanya cukup untuk 1 penumpang, yang satu lagi seperti yang di Pulau Samosir yang dapat menaikkan 4-5 penumpang, akhirnya kami memutuskan naik angkot. Sepanjang pengamatan kami berlalu-lalang di Balige, angkot-angkot disini warnanya beda-beda (kemungkinan angkot bekas dari kota lain), namun rute-rutenya sama. Akhirnya kami naik sembarang angkot dan voilla! Sampai-lah kami di hotel.

Betor Balige
(kiri) Betor (lama) Balige yang hanya cukup untuk penumpang, kecil banget kan.. (kanan) Betor (baru) Balige yang cukup untuk mamak mamak bawa belanjaan dari pasar
Processed with VSCO with c8 preset
Bangku di dalam angkot Balige agak berbeda, ada bangku yang membelakangi supir persis dan yang lainnya menghadap ke depan
Processed with VSCO with c8 preset
Apapun dan siapapun dapat naik angkot Balige, yuhuuuuu~. *habis foto, langsung bantu ibuknya naikkin jerigen

Setelah itu perjalanan pun kami lanjutkan ke ……….. BANDARA! Huhu… Kami harus kembali ke rutinitas dan segala pekerjaan sudah menanti kami. Dari Bandara Udara Silangit kami memilih maskapai Citilink yang penerbangannya direct ke Bandara Halim Perdana Kusuma.

Sekian kisah kami di Balige. Untuk itinerary lengkapnya dan lokasi-lokasi yang kami singgahi di Parapat, Tele, dan lainnya, nantikan di postingan selanjutnya yaa.

Teaser full perjalanan dapat dilihat di vlog di bawah ini yaa..

Cheers,

Ria

Follow me on:
instagram: riasitompul
youtube: ria sitompul
Advertisements

2 thoughts on “Apa yang menarik dari Balige?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s