Itinerary 3 Hari 2 Malam Liburan ke Danau Toba

“TOBA TOBA TOBA YES!”

Begitulah yel yel kami untuk liburan kali ini. Liburan kali ini ke Danau Toba tidak diciptakan dari sebulan atau berbulan-bulan sebelumnya. Liburan kali ini ke Danau Toba tercipta karena business trip ke Kota Medan yang memakan waktu 8 hari dan sisa cuti tahun kemarin yang hanya dapat digunakan hingga akhir bulan ini. Alhasil, terciptalah liburan ini.

Memang saya seringkali ke Kota Medan untuk urusan kantor, satu bulan bisa sekali atau 2 kali ke Medan dan betul juga saya orang Batak dimana kampung nenek moyang saya ya di Sumatera Utara, tapi baru kali ini saya merasakan Tanah Batak seperti layaknya turis! Biasanya kalau pulang kampung, pasti sibuk ke rumah saudara ini itu. Tapi kali ini, saya amat sangat menikmatinya karena trip kali ini bersama rekan-rekan kerja sama dan lokasi yang kami tuju pun layaknya turis yang berkunjung ke Danau Toba.

Mungkin kalau teman-teman sedang ada perjalanan dinas ke Medan atau mungkin wisatawan lokal yang ingin berakhir pekan di Danau Toba dapat meniru itinerary liburan saya kali ini nih. Siap? Berikut detailnya yaa.. Tapi sebelum itu, yuk simak TravelVlog selama di Danau Toba yang sudah saya coba kompilasikan yaa.

Hari ke – 1 (Sabtu)

Ambil penerbangan pesawat dari Kualanamu Airport (KNO) menuju Silangit (DTB).

Kenapa saya pilih pesawat? Kenapa tidak melalui darat saja kan lebih asik?

  1. Karena biaya sewa mobil dari Kota Medan jauh lebih besar daripada harga tiket pesawat.
  2. Kalau melalui darat, waktu kita akan habis dijalan, sedangkan waktu liburan yang kita punya hanya 3 hari 2 malam. Sayang kalau menikmati Danau Toba nya hanya sebentar.

 Perbandingan biaya sewa mobil dari Medan dengan biaya penerbangan dari Medan:perbandingan mobil vs pesawat

Kebetulan, saat trip ini saya mendapat tiket dengan harga terjangkau, yaitu Wings Air dengan harga Rp 277.000,- dengan jam keberangkatan pukul 07:50 WIB. Kalau mau naik Garuda Indonesia juga bisa, harganya 300ribuan dan berangkatnya lebih siang. Tapi lebih seru naik Wings Air, selain jadwalnya paling pagi, pesawat ini masih digerakkan dengan baling-baling loh, sedikit ada rasa ngeri sewaktu melihat baling-balingnya berputar, tapi seru bangeeettt..

Processed with VSCO with c8 preset
Pesawat baling-baling~ alias pesawat ATR Wings Air
Processed with VSCO with c8 preset
Duduk di dekat sayap pesawatnya membuat dag dig dug der setiap lihat baling-balingnya, nasib kalian bergantung pada berputarnya baling-baling soalnya, hahahaha

Setibanya di Bandara Silangit, kami langsung dijemput oleh supir dan mobil sewaan kami. Menariknya, saat di Bandara Silangit, di ruang tunggu bagasi, terdapat wall information seperti ini nih..

Processed with VSCO with c8 preset
Ada list lokasi yang wajib dikunjungi ketika kamu main ke Danau Toba nih..

Di hari pertama ini kami makan siang di Vivi Café, padahal awalnya kami berencana ke Vivi Café untuk makan siang, sedangkan sarapannya di Timbo Café atau Tio Café. Tapi karena waktunya sudah tanggung, jadi-lah kami brunch di Vivi Café.

Processed with VSCO with c8 preset
View-nya langsung Danau Toba dan kamu dapat melihat kapal yang berlalu lalang menyeberangi Danau Toba

Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi Museum TB Silalahi Center yang letaknya masih di Balige dan tidak jauh dari Vivi Café. Untuk masuk TB Silalahi Center, kamu hanya perlu membayar Rp 10.000 per orang ini sudah mencakup keseluruhan areanya loh, dari mulai museum koleksi pribadi TB Silalahi, museum koleksi titipan kerabat TB Silalahi, hingga ragam rumah adat Batak Toba. Cerita detail dari perjalanan selama di Balige dapat dibaca di sini yaa teman-teman [Apa yang Menarik dari Balige?].

Processed with VSCO with c8 preset
Jangan lupa hormat dulu yaa sama Bapak TB Silalahi sebelum masuk ke museumnya, hehe

Setelah puas berkeliling Museum TB Silalahi Center, kami bergegas ke Rumah Pengasingan Soekarno di Parapat. Sayangnya kami tidak cek jam buka terlebih dahulu karena rupanya mereka tutup kalau hari Sabtu. Rumah Pengasingan Soekarno yang di Parapat ini HANYA BUKA hari MINGGU dari jam 07:30 – 22:30. Jadi jangan sampai kena zonk seperti saya ya kawan-kawan, hehe.

Tapi untungnya, setelah berteriak-teriak mencoba memanggil penjaga, kami melihat ada peluang masuk ke teras rumah ini karena satu pagar tidak digembok. Selama di teras pun kami mencoba mencari penjaganya (usaha sangat keras karena nggak tau akan bisa kesini kapan lagi, dasar orang Jakarta! Hehe). Tapi ternyata usaha kami tidak membuahkan hasil, tapi at least kami bisa menikmati teras rumah ini, menikmati pendopo pendopo kecil yang biasanya (mungkin) Bung Karno menikmati pemandangan Danau Toba. Dari sini saya berpikir, sebenarnya rumah pengasingan, bahasanya saja yang terkesan konotatif, tapi kalau melihat fasilitas dan view yang ditawarkan, LUAR BIASA! Tapi memang agak jauh dari pusat keramaian. Jadi benar-benar diasingkan, namun fasilitasnya juga memadai tidak seperti dipenjara atau bayangan negatif kita kita selama ini.

Rumah Pesanggrahan Bung Karno Danau Toba
Tampak depan dari Rumah Pengasingan (Pesanggrahan) Bung Karno di Balige
Rumah Pesanggrahan Bung Karno di Parapat
Di dalam rumah ini ada 2 pendopo seperti ini, tapi di luar rumah, di pinggir Danau Toba-nya ada 1 pendopo seperti ini juga. Kebayang dulu Bung Karno sering memandang Danau Toba dari pendopo-pendopo ini sambil baca buku atau menulis surat.
Rumah Pengasingan Bung Karno di Parapat
Pintu depan dari rumahnya seperti ini. Balkon di lantai atasnya asik banget sih untuk memandangi hamparan luas dari Danau Toba

Setelah mampir ke Rumah Pesanggrahan Bung Karno di Parapat, kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk menyeberang ke Pulau Samosir melalui Pelabuhan Ajibata. Awalnya kami hendak naik kapal feri karena sewa mobil, namun dikarenakan antrian masuk kapal feri yang cukup ramai dan jam berlayarnya kapal feri yang dapat di cek disini (Jadwal Penyeberangan Kapal Feri Pelabuhan Ajibata) dirasa kurang pas, akhirnya kami memutuskan untuk menyeberang menggunakan kapal penumpang sedangkan mobil dan driver kami biarkan menggunakan kapal feri. Biaya penyeberangan melalui kapal ferri adalah Rp 120.000,- hingga Rp 140.000,- per mobil (tergantung dari besaran mobilnya), sedangkan untuk kapal orang biayanya Rp 6.000,- hingga Rp 10.000,- per penumpang.

Setelah tiba di Pelabuhan Tomok, Pulau Samosir, kami segera bergegas ke penginapan, yaitu di Toba Village Inn, yang memiliki view Danau Toba-nya keren banget. Harga penginapannya ini cukup affordable sekitar 400-500 ribu/malam. Satu kamar bisa untuk 2 orang. Parkirannya pun memadai, jadi kalau teman-teman bawa kendaraan pribadi kesini bisa banget.

Toba Village Inn
Toba Village Inn yang menawarkan view Danau Toba dan fasilitas yang sangat lengkap dengan harga yang cukup kantong

Karena hari mulai gelap, kami hanya menghabiskan waktu di penginapan dan berencana eksplorasi Pulau Samosir di keesokan harinya.   Cerita selengkapnya penjelajahan Pulau Samosir dapat dibaca di blog post sebelumnya yaa di Menghabiskan Akhir Pekan di Pulau Samosir.

Hari ke – 2 (Minggu)

Setelah sarapan dan check out dari penginapan, kami pergi ke Pasar Tomok untuk belanja oleh-oleh. Kemudian, setelah oleh-oleh dirasa lengkap, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Huta Bolon Simanindo. Untuk masuk museumnya saja cukup bayar Rp 10.000,- sedangkan untuk masuk ke area yang lebih luas dan menikmati pertunjukan tarian tradisionalnya harus siap menambah biaya Rp 50.000,-. Jadi  total biaya masuknya Rp 60.000,- per orang.

Museum Huta Bolon Simanindo
Apa saja yang ada di Museum Huta Bolon Simanindo ini?? Silahkan nih dibaca yaaa

Untuk informasi, pertunjukkan tarian tradisionalnya hanya dapat dilihat pada Senin hingga Sabtu pukul 10:30 AM dan 11:45 AM serta hari Minggu hanya di pukul 11:45 AM. Jadi teman-teman dapat sesuaikan jam kedatangan dengan jadwal pertunjukkannya yaa.

Tarian tradisional di Huta Bolon Simanindo (3)
Pertunjukkan ini dibuat oleh warga setempat. Nama tarian yang mereka tampilkan adalah Mangahalat Horbon dan tentunya ada Si Gale Gale sebagai penutup pertunjukkannya.

Setelah pertunjukkan selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Balige lagi via darat, yaitu melalui Pangururan. Perjalanan dari Pulau Samosir hingga Balige melalui Pangururan menempuh waktu ± 5 jam. Lama banget Ri??? Iya, tapi tenang aja, sepanjang perjalanan kamu bisa mampir ke Menara Pandang Tele, ngopi-ngopi asik di bukit yang view-nya Danau Toba (ini akan kita bahas di tulisan selanjutnya aja yaa, hehe).

Menara Pandang Tele
Namanya juga menara yaa.. kamu harus siap melahap anak-anak tangga untuk mencapai level tertingginya
Menara pandang Tele
Ini nih view dari lantai paling atasnya. Danau Toba.. keren bangeet. Kalau teman-teman lihat langsung sendiri pasti akan terpukau deh
Menara Pandang Tele
Masih dari Menara Pandang Tele, tapi yang ini dari sisi lainnya. Cool banget kan pemandangannya..
Warung di area Danau Toba
Karena perjalanan yang ditempuh cukup jauh, bisa istirahat sebentar loh di warung-warung kopi seperti ini, biasanya terletak di atas bukit yang dapat memandang hamparan luas Danau Toba
Patung Tangan Doa di Danau Toba
Nah.. di tempat kami istirahat ini, persis di sebelah warungnya ada patung seperti ini. Saya lupa nama lokasinya apa, barangkali teman-teman ada yang tahu?

Sesampainya di Balige, karena hari sudah mulai gelap, kami langsung ke Hotel dan keluar sebentar untuk mencari makan malam. Malam itu kami menginap di Hotel Mutiara Balige. Hotelnya ini sebenarnya biasa saja, harganya Rp 650.000,- per malam, 1 kamar untuk 2 orang.

Hari ke – 3 (Senin)

Paginya kami bangun agak pagi untuk sarapan mie gomak di Pasar Balige. Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Monumen Pahlawan Revolusi yang memang kami lewati saat berjalan kaki menuju Pasar Balige.

Monumen Pahlawan Revolusi Balige, Tobasa
(kiri) patung Letjen DI Pandjaitan, (kanan) rumah tradisional Batak Toba yang dipergunakan sebagai salah satu kantor Dinas Pariwisata

Beberapa langkah dari Monumen Pahlawan Revolusi, tiba-lah kami di Pasar Balige. Pagi itu, karena kami datang terlalu pagi, masih banyak toko yang belum buka. Di pasar ini, saat pagi hari, hanya area lokasi pasar basah saja yang ramai, sedagkan untuk toko souvenir mayoritas buka di atas pukul 10:00 AM. Tapi karena pagi ini tujuan kami adalah sarapan mie gomak, kami langsung bergegas mencari warung Mie Gomak Ma’renni di dalam Pasar Balige ini. Lokasinya tepat di tengah-tengah pasar, perbatasan antara area toko souvenir dan pasar basah. Warung mie gomak ini menjual dua jenis mie gomak, yaitu mie gomak kuah dan mie gomak goreng. Saat itu saya dan teman saya mencicipi keduanya dan dua-duanya NIKMAT!! Hal yang lebih fantastis lagi, harganya hanya Rp 5.000,- per porsi!! Kalau di banding Jakarta, harga satu porsi mie gomak ini sama dengan harga Es Teh Manis, hahaha.

Mie Gomak Ma'renni
Mie Gomak terenak di Balige ni.. Anyway, mie gomak merupakan makanan yang wajib dicoba kalau ke tanah batak yaa. Bentuk mie-nya seperti Spaghetti, makanya sering disebut Spaghetti Batak. Kalau yang pedas itu mie gomak kuah, sedangkan mie gomak goreng tidak begitu pedas.
Pasar Balige
Beli oleh-oleh (souvenir) Ulos disini lebih murah dibanding tempat yang lain, kualitasnya pun oke, tapi ingat yaa.. harus tetap ditawar! hahaha

Setelah akhirnya sempat kembali ke hotel dan kembali lagi ke Pasar Balige ketika toko-toko sudah buka, serta puas berbelanja, kami pun melanjutkan perjalanan ke ……….. BANDARA! Huhu… Kami harus kembali ke rutinitas dan segala pekerjaan sudah menanti kami. Dari Bandara Udara Silangit kami memilih maskapai Citilink yang penerbangannya direct ke Bandara Halim Perdana Kusuma.

 

Sebelum mengakhiri tulisan, yuk simak summary dari itinerary kami ini dan beberapa foto yang menarik untuk di share ke kalian.

SUMMARY OF ITINERARY

Itinerary 3 hari 2 malam di Danau Toba

Rumah warga di Balige
Lingkungan di tanah Batak identik dengan makam (bangunan mirip gereja) yang biasanya terdapat di dekat rumah ataupun di tanah kosong. Jangan kira bangunan-bangunan yang besarnya hampir sama dengan rumah dan memiliki penanda salib layaknya gereja lantas dikira adalah gereja yaa, hehe. Itu makam loh ternyata..
Rumah di Balige
Penampilan rumah-rumah warga di Balige. Sekarang sudah tidak banyak yang menggunakan rumah tradisional batak toba.
Rumah warga di Samosir
Di Pulau Samosir pun begitu, rumah-rumah warganya kurang lebih seperti ini dan kalau sore hari, masih banyak anak-anak yang bermain di halaman atau rerumputan kosong tak terbangun. Biasanya mereka main voli.
Danau Toba
Sejauh mata memandang, pasti terlihat Danau Toba. Danau Toba dikelilingi area hijau yang membuat kita semakin dan selalu terpukau lihat perpaduan hijaunya bebukitan dan birunya Danau Toba.

Yuhu~ Sekian kisah kami di Balige. Semoga itinerary ini bermanfaat untuk teman-teman.

Cheers,

Ria

Follow me on:

instagram: riasitompul

youtube channel: Ria Sitompul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s