berkaca, baru berkata

berkaca, baru berkata

Terkadang, orang itu ngomongin kejelekan orang lain, tanpa mereka sadar kalau dirinya sendiri seperti itu.

Dan ketika gue berada diposisi pendengar yang sedang mendengarkan kejengkelan mereka tentang orang tersebut, betapa dongkolnya mereka. Gue cuma bisa tersenyum dan berkata dalam hati “Hellloooooowww.. lo juga gitu kaliii..” Continue reading “berkaca, baru berkata”

Advertisements

Sekolah Membunuh Kreativitas Anak

Sekolah Membunuh Kreativitas Anak

Ketika saya mengantar anak saya ke sekolah, saat itu anak saya masih TK. Saya melihat seorang anak kecil sedang asik menggambar, entah menggambar apa, yang jelas dia asik menggambar. Saat itu saya bertanya:

“Sayang, kamu lagi gambar apa?”
“Lagi gambar Tuhan Om”
“Loh, kok menggambar Tuhan?”
“Iya, habisnya aku tanya ke orang-orang nggak ada yang tahu wajah Tuhan seperti apa. Jadinya aku gambar deh. Tunggu aku selesai gambar, nanti kan semua orang jadi tahu wajah Tuhan kayak apa.”

Continue reading “Sekolah Membunuh Kreativitas Anak”

IMAGINATION

IMAGINATION

Seperti kata kakek Albert Einstein :

Logika sanggup mengantarmu dari A ke B. Tetapi imajinasi, sanggup membawamu dari A ke tak terhingga.

Continue reading “IMAGINATION”

PEJABAT JALANAN

PEJABAT JALANAN

Tiga minggu sudah gue melakukan penelitian di jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat – Jakarta Barat, kurang lebih 4km. Tiga minggu ini menjadikan gue terkenal di jalan ini. Sebut saja gue ini, PEJABAT JALANAN, buka artis jalanan, bukan juga anak jalanan.

Menurut gue, artis jalanan itu sebutan bagi orang yang bekerja di dunia entertain, tapi ya di jalanan lahan mereka, misal pengamen, pesulap di bus, dan lain-lain. Sedangkan anak jalanan menurut gue adalah sebuah sebutan untuk anak atau orang yang hidup dan tinggal di jalanan, misal mereka yang tunawisma dan tinggal di kolong jembatan, anak-anak punk yang suka berkeliaran di jalanan, dan lain-lain. Nah, sedangkan pejabat jalanan, ya seperti gue ini, orang terkenal di medan tersebut, yang kerjanya ngobrol sama orang sana-sini di medan tersebut, disapa dan bahkan disalamin tiap kali lewat jalan tersebut.

Yaa, setelah tiga minggu ‘hidup’ di jalan itu, gue dikenal dan mengenal banyak orang disana, dari mulai pedagang kaki lima, tukang jualan keliling, tukang ojek, hingga karyawan-karyawan yang bekerja di ruas jalan tersebut. Namanya juga meneliti, otomatis gue harus ‘masuk’ dalam dunia jalan tersebut, membaur dan bercengkerama dengan yang lain. Awalnya segan dan takut, tapi bukan mahasiswa perencana kota namanya kalau tidak bisa berbaur dan menjiwai medan dan masyarakat disana. Hingga akhirnya gue bisa mendapatkan segala informasi tentang medan tersebut dan merasakan langsung apa yang mereka rasakan tentang medan tersebut.

Alhasil, tiap gue lagi bawa orangtua ataupun temen gue ke sana, mereka menertawai gue. Mereka merasa lucu karena gue banyak disapa sana-sini “Ehh, mbak Ria..” atau “Mbak Ria, apa kabar?” dan lain-lain. Ada lagi bapak-bapak yang nggak sekedar ucapan, tapi nyalamin sambil berdiri. Hahaha. Yaa.. namanya juga pejabat jalanan Dan gue bangga. Karena itu mengindikasikan bahwa gue telah berhasil. Selamat!!  8)

Oh iya, ini beberapa penggal bagian dari penelitian gue. Jangan kira  jalan gue se-simple jalan lain. Tidak. Lebarnya saja belasan meter dalam satu lajur, dan kedua lajur tersebut dipisahkan oleh sungai Ciliwung selebar lima meter. How???

Penampang Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gakah Mada, DKI Jakarta

Beda Bahasa

Beda Bahasa

Semua ini berwal dari situasi saat saya berada dalam bus Trans Jakarta. Saat itu penumpang di dalam bus tidak terlalu penuh dan tidak sepi. Posisi saya yang menempatkan sebuah fenomena yang harus saya lihat, cermati, dan renungi.

Saat itu diluar hujan dan penumpang bus rata-rata tertidur pulas. Tapi tidak untuk empat orang yang sejak awal mencuri perhatian saya. Saat itu juga, di arah serong kanan saya, ada dua orang wanita paruh baya yang sibuk berbincang menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Kedua wanita ini orang Indonesia tulen. Tapi keduanya berpostur layaknya seorang ibu guru, kalem dan berhijab. Berbeda dengan dua wanita paruh baya di arah serong kiri saya. Mereka cantik, tapi mereka berbicara dengan kesunyian. Ya, mereka berdua bisu.

Setelah lama memerhatikan mereka, ada hal yang menggelitik otak saya untuk merenunginya.
Iya, kedua kubu ini berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tapi isi dari obrolan mereka?

Secara garis besar, kubu yang menggunakan bahasa Inggris tersebut saling berkeluh kesah tentang harinya saat itu. Mereka mengeluh tentang si A, B, dan C, dan kejadian yang mereka alami hari itu dan tercermin muka bad mood mereka saat menceritakan itu semua. Tapi coba lihat di kubu sebelah, walaupun mereka berbicara dengan gerakan, tapi gerakan dan sinar mata mereka melambangkan kegembiraan. Mereka berbincang tentang kejadian yang mereka alami tadi.

Kemudian saya berpikir. Untuk apa kita dikasih mulut yang bisa berbicara tapi yang keluar hanya keluhan yang bisa buat hati kita kesel sendiri, buat orang lain risih mendengarnya, dan bahkan Tuhan pun nggak suka? Lebih baik suara tersebut diberikan kepada orang yang selalu mau berbicara tentang kesukacitaannya.

Ahh, tapi ini hanya pemikiran saya saja sebagai manusia, Tuhan pasti punya alasan lain yang tidak bisa diselami.

Yang jelas, saya bersyukur sekali diberikan fenomena ini. Saya yang sejak dulu tidak pernah suka melihat orang yang mengeluh. Mellihat fenomena ini semakin tersadar bahwa mulut saya, suara saya, diberikan untuk selalu mengucap syukur dan memberikan kesukacitaan. Bukan. Bukan untuk hati saya saja, tetapi untuk orang-orang disekeliling saya yang mendengar dan melihatnya.